Komunikasi dan pergeserannya

Udara segar merasuki semangat diri. Air terjun Dlundung Trawas menguak sudut kehidupan tersendiri. Berbeda dengan kemacetan-kemacetan, atau bising teriak para penjaja kaki lima.

Disini, jauh dari pohon-pohon reklame, yang semakin hari semakin banyak tertanam dan tumbuh di sekitar kita.

Hijau dedaunan dan suara air gemericik yang membawa damai. Sejenak terlepas dari bombardir komunikasi yang dipaksakan masuk ke dalam kepala kita. Komunikasi Iklan Indonesia. Komunikasi yang dipaksakan. Bahkan kadang terasa kasar dan menebarkan permusuhan.
 
Bagaimana tidak? Anak saya pun sering ledek-ledekan soal pulsa Handpone. Yang satu bilang "Hmmm mau kawin sama Kambing?" dan yang satunya menimpali "Bosen...ngitung mulu!" Alhasil, saya sampai cape meng-update nomor-nomor handphone kedua anak saya.

"Kenapa nomor kakak ganti lagi?"

"Habis yah, Si x suka iseng sms-in kakak. Sebel!" Jawabnya singkat dan seakan nomor Handphone dianggapnya permen saja. Nah! Ini permasalahan lain soal ganti nomor Handphone.

Komunikasi, benar-benar mencerminkan perilaku, mencerminkan kecerdasan, mencerminkan isi pikiran dan juga kejernihan hati dan kematangan. Bukan hanya kecerdasan sang pembuat iklan, namun justru lebih menunjukan kecerdasan target pasarnya.

Bagaimana mau membuat iklan yang canggih, kalau target pasarnya "Bolot"? Itu yang sering kita dengar para pekerja periklanan. Mereka seakan enggan dan sangat takut, kalau iklannya tidak sukses, berkontribusi terhadap peningkatan penjualan. Kawatir pesannya tak sampai, maka iklannya menjadi kasar,norak dan juga maksain.

Mungkin anda pernah mengikuti pertempuran seru dua produsen Kacang. Saya tidak tahu berapa besar biaya untuk "perang" itu. namun coba dicermati apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Terlintas pertanyaan apakah iklannya untuk Customer atau untuk pesaingnya? Anda juga bisa lihat di bisnis kendaraan roda dua.

Perang iklan yang rame di bisnis celuler, bisa jadi dari komunikasi ke konsumen akan bergeser, untuk "perang" dengan pesaingnya.

Bahkan muncul alasan "cinta damai" dari beberapa anak yang pindah nomor handphone-nya ke provider yang tidak ikut-ikutan ribut. Atau saya sendiri merasa ikutan sebel dengan iklan seorang istri yang sama sekali tidak hormat dengan suaminya. Menyiram muka suami dengan kopi panas. Rasanya contoh perilaku yang kurang baik itu, membuat saya senang minum teh saja dirumah, seperti iklan yang cukup adem untuk ditonton. "Mau bicara ngeteh dulu..." Ini khan bagus untuk menginspirasi istri saya, dibanding mengajari istri-istri di Indonesia untuk menyiram muka suaminya dengan kopi panas.

Iklan adalah cara berkomunikasi, untuk itu kecenderunganya bisa juga diindikasikan dengan pola komunikasi masyarakat saat ini. Ketika keterbukaan yang katrok ala Tukul Arwana, mengeruk keuntungan dan digemari, maka bermunculan acara yang sejenis, iklan yang mirip dan pola komunikasi yang serupa. Acara Super seleb di Indosiar misalnya, kamera pun diperbolehkan meng-close-Up Eko Patrio yang sedang makan nasi bungkus.

Iklan dan tontonan memiliki andil besar dalam cara berkomunikasi di masyarakat. Bagaimana tidak? Ketika saya lupa membawa handphone, maka anak saya dengan ringanya bilang "Ayah..ih! Katrok!"

Waduh! Sopan santun sudah barang langka dan tidak laku rupanya di era komunikasi saat ini. Sopan satun kadang malah menghasilkan tuduhan tidak komunikatif, jaim dan jadul. Waduh! Waduh!

Inilah jaman yang selalu berubah. Cara berkomunikasipun sudah berubah! Kejutan hasil pilkada juga tidak lepas dari trend figur pilihan yang bergeser dan cara-cara berkomunikasi yang berhasil.

Terlepas dari mengejar yang paling efektif, berkomunikasi dalam beriklan tentu ada baiknya diikuti dengan rasa tanggung jawab. Iklan yang mendongkrak penjualan, namun memiliki kontribusi merusak, tentu tidak bisa dikatagorikan iklan yang baik.

Tidak dipungkiri, iklan dan tayangan televisi, sekarang dan ke depan, merupakan trendsetter komunikasi masyarakat ke depan yang paling dominan. Anda tak usah kaget, kalau ketika Anda menolak permintaan anak, tiba tiba mereka akan bilang "Jangan gila dong!"

Anda juga tak perlu terlalu terkejut, ketika anda minta tolong membuatkan Kopi pada anak anda, dan mereka bilang "Cape Deh!"

Wow! Pergeseran makna mengalami percepatan yang luar biasa. Memahami bahasa saat ini tentu tidak cukup hanya dengan arti kata-kata dan kalimat, tidak cukup dengan menangkap unsur supra segmental seperti nada bicara dan intonasi, namun juga harus mengikuti perkembangan yang terjadi. Tanpa itu, anda akan sangat mudah tersinggung, marah dan salah paham!

Salam Perubahan

Hari SUbagya

www.bisnispartner.com

Keep Learning.... automatically Earning!

OUR CLIENTS